Senin, 26 April 2010

metabolisme ternak dan pengaruhnya

Penggunaan Derivat Asam Pantotenat pada Industri Ternak

12 06 2009

Rate This




Oleh Urip Santoso



Dewasa ini, industri peternakan yang berkembang cepat temyata menghasilkan berbagai kelainan metabohsme lemak, termasuk di dalamnya fatty liver dan akumulasi lemak yang berlebihan di bagian abdomen dan bagian lainnya. Sebagai contoh,fatty liver tidak hanya menurunkan produksi telur dan menurunkan nilai komoditas broiler sebagai bahan pangan, tetapi juga meng­ganggu efisiensi pertumbuhan dan me­tabolisme normal pada ternak yang me­nyebabkan kerugian ekonomi cukup besar. Pantethine sebagal derivat asam pantotenat mempunyai prospek yang cukup baik untuk mencegah kelainan tersebut di atas.

Pantelhine, D‑bls‑ (pant thenyl-β‑aminoethyl) disulfide addimer dan Pantethine yang merupakan derivat asam pantote­nat dan cysteamine, dan membentuk se­bagian dani struktur Coenzyme A. Pante­thine telah lama dikenal mempunyai sifat hipolilidemik.. Pantethine dalam tubuh akan diubah menjadi pantethine dengan termi­nal grup –SH dimana pantethine merupa­kan intermediat dalam sintesis CoA darl vitamin asam pantotenat. Oleh karena itu wajarlah jika pemberian pantethine akan mempengaruhi metabolisme karbohidrat, lipida dan asam amino.



Meningkatkan produksi telur dan berat badan

Thompson et al. (1954) menemu­kan bahwa pemberian pantethine ke dalam ransum ayam menghasilkan per­tambahan berat badan yang lebih baik daripada yang diberi cakium pantotbenate, dan peningkatan berat badan akan lebih tinggi lagi pada level pemberian yang le­bih tinggi. Mori et al. (1986) menemu­kan bahwa pembenian 200 ppm pante­tbine kepada broiler yang dipelihara pada suhu 25oC temyata tidak memberikan pengaruh terhadap PBB dan FCR. Akan tetapi jika broiler dipelihara pada suhu 31oC pemberian pantethine akan me­ningkatkan efisiensi pakan dan berat da­ging. Pada ayam petelur, Hsu et al. (1987) yang dipelihara pada suhu 25oC pemberian pantetbine tidak memberikan pengaruh terhadap produksi telur. Akan tetapi penurunan produksi telur karena suhu yang tinggi (31oC) dapat dihambat oleh pantethine, sementara berat telumya cendetung meningkat (Hsu et al., 1988). Hasil menunjukkan bahwa pantetbine da­pat digunakan untuk memaksimalkan potensi genetik ayam dengan cara me­ningkatkan keseimbangan hormon ketika ayam dipelihara pada suhu tinggi (Tanaka, 1992).



Menurunkan sintesis asam lemak pada ayam

Sisi utama dari sintesis asam lemak pada ayam adalah hati dan fungsi lain yang berkaitan dengan metabolisme, seperti esterifikasi asam lemak, penylm­panan lipid, sintesis lipoprotein dan ke­luamya lipid ke aliran darah semuanya ada di hati. Oleh karena itu, abnormalitas metabolisme lipid pada ayam secara umum terjadi pada hati seperti misalnya fatty liver. Salah satu tipe fatty liver pada ayam adalah fatty liver hemorrhagic syndrome (FLHS). Kelainan ini terutama terjadi pada ayam petelur serta menimbulkan mortalitas yang cukup tinggi karena ter­jadinya pembengkakan hati, akumulasi lemak yang berlebihan serta luka pada hati. FLHS ini dapat menurunkan pro­duksi telur secara drastis. Sebab utama FLHS ini diduga karena naiknya kon­sentrasi estrogen darah, dimana sekresi estrogen yang berlebihan pada ayam pe­telur akan merangsang sintesis asam lemak di hati (Tanaka et al., 1986; Haghighi‑Rad & Polin, 1981). Hsu et al. (1987) menemukan bahwa ketika ayam petelur diberi pakan yang mengan­dung jagung sebagai sumber karbohi­drat, konsentrasi estradiol dalam plasma lebih tinggi dengan sintesis asam lemak dan kadar lipid di hati yang lebih tinggi daripada yang diberi pakan mengandung barley. Ketika 200 ppm pantethine ditambahkan, tidak ada perubahan pada ayam yang diberi barley. Namun konsen­trasi estradiol dalam plasma dan sintesis asam. lemak dan kadar lipid hati menu­run pada ayam petelur yang diberi ja­gung.

Hasil ini menunjukkan bahwa ketika ayam dipelihara pada kondisi yang mengakibatkan tingginya konsentrasi estradiol dan lipid hati, pantelhine tampaknya mampu menurunkan ke tingkat yang normal. Ketika ayam petelur dipelihara pada suhu tinggi (31oC) penambah­an pantethine menghasilkan konsentrasi thyroxine plasma yang lebih tinggi (Hsu et al., 1987) Fatty liver pada ayam sering terjadi pada musim panas yang disebab­kan oleh hypothyroidism sebagai akibat tingginya suhu kritis. Oleh karena itu pantetbine dapat menghambat hypo­thyroidism dan mampu menurunkan aku­mulasi lipid di hati, maka tampaknya pembenian pantethine ke dalam ransum ayam dapat mencegah fatty liver terutama pada musim panas atau pada suhu ling­kungan tinggi seperti di daerah tropis.



Menurunkan sintesis kolesterol pada ayam

Konsumsi makanan yang mengan­dung kadar kolesterol dan asam lemak jenuh dalam waktu lama dapat menim­bulkan hypercholesterolemia atau hyperlipidemia. Disinyalir hal ini dapat meningkatkan risiko terkena penyakit penyempitan pembuluh darah arteri, seperti aorta dan arteri jan­tung, yang menvebabkan ischemic heart disease (angina pectoris myocardinal infrac­tion). Oleh karena itu usaha untuk menurunkan kadar lemak pada produk ternak akhir‑akhir ini menjadi po­puler. Hsu et al. (1988) me­nemukan bahwa pemberian 200 ppm pantethine pada ayam petelur menurunkan aktivis enzim yang berkaitan dengan sintesis asam lemak dan aktivitas 3‑hydroxy‑3­methylglutaryl‑CoA reductase, suatu. enzim yang sangat ber­peran pada sintesis koles­terol. Selain itu juga menu­runkan total kolesterol dalam hati dan plasma serta menurunkan kadar kolesterol telur. Tanaka et al. (1989) menemukan bahwa pemberian pantetbine juga menurunkan LDL‑c pada plasma dan kolesterol hati serta koles­terol ester, kolesterol bebas dan fosfo­lipid dalam serum pada ayam bertumbuh (growing chicks). Selanjutnya dinyata­kan bahwa pemberian pantethine pada ransum yang ditambahkan kolesterol juga menurunkan kadar lemak hati dan serum serta LDL‑c dalam serum



Pengaruhnya pada ruminansia

Kegemukan, fatty necrosis dan fafty fiver pada sapi semakin sening terjadi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pergerakan dan konsumsi energi yang berlebihan yang berasal dari konsentrat. Pada saat terjadi fatty liver, gluconeogenesis di hati terganggu yang menimbulkan ketosis. Tanaka et al. (1992) mem­berikan etbionine pada sapi untuk menimbulkan fatty liver. Pemberian ethionine menurunkan secara drastis aktivitas fructose‑1, 6‑biphospatase dan phosphoenolpyruvate carboxykinase dan hepatic gluconeogenic enzyme. Penurunan gluconeogenic pathway ini akan kembali normal jika pantethine diberikan melalui jugular vein satu kali selama 4 hari pada kambing lokal Jepang.



Pengaruhnya terhadap sistem metabolisme obat

Yoshikawa et al. (1982) menemukan bahwa pantethine menurunkan luka yang dise­babkan oleh carbon tetrachlo­ride pada tikus. Juga dilaporkan bahwa pantethine memperbaiki dermatopathy yang dikembangkan oleh lipid peroxide in vivo (Kimura et al., 1982; Hayakawa dan Ueda 1972) dan menurunkan cardiotoxicity, yang di­akibatkan oleh pemberian adriamycin (Boo et al., 1982). Kenyataan ini menun­jukkin bahwa metabolit pantetine mung­kin berperan sebagai salah satu “scavenger” terhadap lipid peroxidation in vivo yang terutama terjadi pada biomembrane.

Karena enzim dari sistem metabolis­me obat juga terdapat pada biomembrane terutama dalam transfer elektron dari mikrosom hati, tampaknya sistem ini di­pengaruhi oleh lipid peroxide yang dihasil­kan in vivo oleh metabolisme xenobiotic yang dimasukkan dan “scavenger” endogen terhadap lipid peroxide. Jika, ditinjau dari sudut nutrisi, ada beberapa laporan (Saito et al., 1982; Saito et al., 1983a, b; Kato et al., 1980; Kato et al., 1981; Kobayashi dan Yoshida, 1981) tentang pengaruh xenobiotic (terutama polychlorinated biphenyl dan scavenger” terhadap perubahan sistem metabolisme obat dan pembentukan lipid peroxide in vivo. Pene­litian tentang pengaruh autooxidized fatty acid termasuk peroxide terhadap aktivitas metabolisme obat dalam mikrosoma ti­kus sangat sedikit. Mengingat lipid per­bxide terjadi dalam makanan dan diaku­mulasikan (Kanazawa et al., 1985; Oarada et aL, 1986) terutama di hati se­telah dikonsumsi maka sangat penting untuk mengetahui pengaruh autooxidized fatty acid terhadap sistem metabolisme obat. Pemberian autoxidized linoleate (AL) pada dosis rendah meningkatkan kadar cytochrome P‑450 dan aktivitas sistem me­tabohsme obat, sementara pada dosis tinggi akan menurunkannya (Hira­matsu et al., 1987), walaupun kadar dan aktivitasnya menurun dengan perpan­jangan waktu pemberian bahkan pada dosis rendah sekalipun (Hiramatsu et al., 1988). Pemberian pantethine membebas­kan pengaruh AL ter­hadap sistem metabolisme obat di hati tikus (Hiramatsu et al., 1989). Peneliti ini menemukan bahwa aktivitas metabo­lisme obat, yang dalam hal ini non‑AL dan AL dosis rendah, menunjukkan bahwa aktivitasnya lebih tinggi pada grup yang kekurangan pantethine daripada yang cukup dan berlebih. Da­pat disimpulkan bahwa pada grup yang rendah pantethine, sistem metabolisme obat dirangsang untuk mendekomposisi lipid peroxide sebagal hasil dari sistem redoks in vivo. Tampaknya, pantethine mencegah induksi sistem metabofisme obat karena pantelhine mempunyai sifat antioksidan yang menurunkan peroxidation lipid in vivo. Hiramatsu et al (1991) melaporkan bahwa pemberian pantethine yang cukup menurunkan lipid peroxidation in vivo dan menjaga metabolisme lipid yang normal walaupun pada kondisi pe­masukan AL yang tinggi.

Hirako (1994) menemukan bah pemberian pantethine ke dalam ransum menurunkan kadar lemak abdomen pa­da ayam bertumbuh yang diimplantasi­kan dengan estradiol (3,7 µg/hari, na­mun kadar tersebut masih jauh dari yang tanpa estradiol. Pemberian pantelhine pada ayam yang diimplantasi estradiol ini juga mampu menaikkan berat badan, sedang pada ayam tanpa estradiol pante­thine tidak berpengaruh terhadap berat badan maupun lemak abdomen. Selan­jutnya dinyatakan bahwa pemberian pantelhine pada ayam tersebut menaikkan aktivitas aminopyrine N‑demethylase, kadar cytochrome P‑450 dan kadar cytochrome b5. ­Namun pantethine tampaknya tidak mam­pu menurunkan komposisi lemak hati dan darah yang dirangsang oleh estradiol.

Dari uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa pemberian pante­thine ke dalam ransum ternak dapat me­ningkatkan produktivitas dan kualitas produk ternak. (Pernah dimuat dalam Poultry Indonesia Juli 1999).